Jumat, 22 September 2017

MAKALAH THEATHER



KATA PENGANTAR


Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan anugerah dan bantuanNya saya dapat mengerjakan dan menyelesaikan makalah ini dengan baik dan tepat waktu. Terima kasih kepada Pak Rangga selaku guru komputer dan juga teman-teman teater saya yang telah bersedia membantu saya selama proses pembuatan makalah ini, tanpa batuan mereka semua belum pasti saya dapat menyelesaikan makalah ini dengan baik.

Teater adalah salah satu seni yang kerap kita temui, teater merupakan salah satu seni yang cukup terkenal selain musik dan seni rupa. Dalam teater kita dapat menyalurkan semua ide dan dapat membuat kita sebagai penulis yang baik, selain menyalurkan ide kita juga dapat menemukan kepercayaan diri. Dunia teater sangat menarik dan mengasyikkan, selain bisa bermain peran kita juga perlu mengetahui teater secara teori. Maka dalam makalah ini saya akan mengupas dunia teater lebih dalam dan membuat kita lebih mengerti dunia teater yang sebenarnya.

Tak ada gading yang tak retak, begitulah bunyi salah satu pepatah. Saya sebagai penyusun menyadari bahwa makalah ini masil memliki banyak kekurangan untuk itu saya akan menerima segala bentuk kritik dan saran agar saya bisa memperbaiki kekurangan saya dan kedepannya saya akan berusaha sebaik mungkin untuk lebih baik. Semoga makalah ini berguna bagi para pembaca.

Tasikmalaya, 31 Oktober 2016




Penyusun,


BAB I
PENDAHULUAN

a. Latar Belakang Masalah
Seni sebagai ekspresi diri sudah berkembang dalam masyarakat. Seni drama teater menjadi salah satu acuan perkembangan ekspresi diri yang kompleks. Namun kini melihat seni teater yang saat ini semakin pudar, juga mulai jarang dikenal di masyarakat luas. Banyak yang beranggapan bahwa teater membosankan dan tidak menarik. Orang-orang zaman sekarang khususnya remaja semakin pasif karena munculnya gadget, mereka lebih memilih untuk mengekspresikan diri melalui katakata dalam internet dan membuat mereka menjadi ekspresif semu. Mereka tidak terbiasa lagi dalam mengekspresikan diri mereka secara langsung, maka itu dalam makalah ini saya ingin meningkatkan peminat teater dengan cara memberikan pandangan terhadap mereka bahwa teater itu menarik dan sangat mengasyikkan untuk menyalurkan hobi dan juga menghabiskan waktu senggang kita.

b. Rumusan Masalah
1. Apa definisi teater?
2. Bagaimana berakting yang baik?
3. Apa saja unsur-unsur dalam teater?
4. Bagaimana sejarah teater?
5. Karya-karya teater yang terkenal.
6. Bagaimana pandangan para remaja yang mengikuti teater, apa manfaatnya
bagi mereka sendiri?


BAB II
 LANDASAN TEORI

a) Definisi teater
Teater (bahasa Inggris: theater atau theatre, bahasa Perancis théâtre berasal dari kata theatron dari bahasa Yunani, yang berarti "tempat untuk menonton"). Teater adalah istilah lain dari drama, tetapi dalam pengertian yang lebih luas, teater adalah proses pemilihan teks atau naskah, penafiran, penggarapan, penyajian atau pementasan dan proses pemahaman atau penikmatan dari public atau audience (bisa pembaca, pendengar, penonton, pengamat,  kritikus atau peneliti). Proses penjadian drama ke teater disebut prose teater atau disingkat berteater. Teater bisa diartikan dengan dua cara yaitu dalam arti sempit dan dalam arti luas. Teater dalam arti sempit adalah sebagai drama (kisah hidup dan kehiudpan manusia yang diceritakan di atas pentas, disaksikan orang banyak dan didasarkan pada naskah yang tertulis). Dalam arti luas, teater adalah segala tontonan yang dipertunjukkan di depan orang banyak contohnya wayang orang, ketoprak, ludruk dan lain-lain.

b) Berakting yang baik
Akting yang baik tidak hanya dari segi dialog, tetapi bagaimana kita bergerak dan menghayati cerita sangat penting. Dialog yang baik ialah dialog yang memiliki volume yang baik(terdengar jelas), artikulasi jelas, dapat dimengerti, dan benar-benar dihayati. Sedangkan gerak yang baik ialah tidak terjadinya blocking, jelas, dan dihayati. Blocking sangat dilarang dalam pementasan, mengapa? Arti dari blocking yaitu membelakangi penonton, kalau membelakangi bagaimana penonton mengetahui ekspresi kita? Maka sangat dilarang blocking dalam pementasan. Penghayatan peran sangat penting, bagaimana caranya? Pertama, kita harus mengetahui inti cerita secara garis besar dan mengetahui dialog yang harus kita ucapkan, terkadang peran yang kita dapatkan di teater tidak seperti apa yang kita jalani di hidup dan menyebabkan terjadinya kesulitan penghayatan peran, namun apabila kita sering berlatih maka masalah itu akan teratasi. Artikulasi harus jelas agar para penonton mengerti dialog yang kita ucapkan dan mereka mengerti alur cerita dari pementasan tersebut. Improvisasi sangat diperlukan dalam teater, tidak sedikit dari kesalahan teknis yang kerap terjadi pada saat pementasan dan saat itulah keahlian kita dalam berimprovisasi diiuji, jangan sampai kesalahan teknis menggagalkan pementasan anda, tak perlu bersusah payah kita dapat berimproivisasi dengan cara menyelipkan sedikit pantun atau mungkin lelucon yang bisa membuat cerita lebih menarik dan bervariasi.

c) Unsur-unsur dalam teater
Unsur yang pertama yaitu naskah atau scenario. Naskah sangat penting karena tanpa naskah takkan ada pementasan, naskah berisi kisah dengan nama tokoh dan dialog yang diucapkan.
adalah cara mendandani pemain
dalam memerankan tokoh teater agar lebih meyakinkan. Tata busana adalah pengaturan pakaina pemain agar mendukung keadaan yang menghendaki. Contohnya pakaian sekolah lain dengan pakaian harian. Tata lampu adalah pencahayaan dipanggung. Dan yang tearhir tata suara adalah pengaturan pengeras suara.
d) Sejarah teater
Waktu dan tempat pertunjukan teater pertama kali dimulai tidak diketahui. Adapun yang dapat diketahui hanyalah teori tentang asal mulanya. Di antaranya teori tentang asal mula teater adalah sebagai berikut:
· Berasal dari upacara agama primitif. Unsur cerita ditambahkan pada upacara semacam itu yang akhirnya berkembang menjadi pertunjukan teater.
Meskipun upacara agama telah lama ditinggalkan, tapi teater ini hidup terus hingga sekarang.
· Berasal dari nyayian untuk menghormati seorang pahlawan di
kuburannya. Dalam acara ini seseorang mengisahkan riwayat hidup sang pahlawan yang lama kelamaan diperagakan dalam bentuk teater.
· Berasal dari kegemaran manusia mendengarkan cerita. Cerita itu kemudian juga dibuat dalam bentuk teater (kisah perburuan, kepahlawanan, perang, dsb).
Naskah teater tertua di dunia yang pernah ditemukan ditulis seorang pendeta Mesir, I Kher-nefert, di jaman peradaban mesir kuno kira-kira 2000 tahun sebelum tarikh Masehi dimana pada jaman itu peradaban Mesir kuno sudah maju. Mereka sudah bisa membuat piramida, sudah mengerti irigasi, sudah bisa membuat kalender, sudah mengenal ilmu bedah, dan juga sudah mengenal tulis menulis.
I Kher-nefert menulis naskah tersebut untuk sebuah pertunjukan teater ritual di kota Abydos, sehingga terkenal sebagai “Naskah Abydos” yang menceritakan pertarungan antara dewa buruk dan dewa baik. Jalan cerita naskah Abydos juga diketemukan tergambar dalam relief kuburan yang lebih tua. Sehingga para ahli bisa mengira bahwa jalan cerita itu sudah ada dan dimainkan orang sejak tahun 5000 SM.
Meskipun baru muncul sebagai naskah tertulis di tahun 2000 SM. Dari hasil penelitian yang dilakukan diketahui juga bahwa pertunjukan teater Abydos terdapat unsur-unsur teater yang meliputi; pemain, jalan cerita, naskah dialog, Teater topeng, tata busana, musik, nyanyian, tarian, dan properti pemain seperti tombak, kapak, tameng, dan sejenisnya.

e) Teater Abad 20
Teater telah berubah selama ber -abad-abad. Gedung-gedung pertunjukan modern memiliki efek-efek khusus dan teknologi baru. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan juga untuk menikmati musik, hiburan, pendidikan, dan mempelajari hal-hal baru. Rancangan-rancangan panggung termasuk pengaturan panggung arena, atau yang kita sebut saat ini, Teater di Tengah-Tengah Gedung. Dewasa ini, beberapa cara untuk mengekspresikan karakter-karakter berbeda dalam pertunjukan-pertunjukan (disamping nada suara) dapat melalui musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya-gaya pertunjukan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika saat ini.

Seiring dengan perkembangan waktu. Kualitas pertunjukan Realis oleh beberapa seniman dianggap semakin menurun dan membosankan. Hal ini memdorong para pemikir teater untuk menemukan satu bentuk ekspresi baru yang lepas dari konvensi yang sudah ada. Wilayah jelajah artisitk dibuka selebar-lebarnya untuk kemungkinan perkembangan bentuk pementasan seni teater. Dengan semangat melawan pesona Realisme, para seniman mencari bentuk pertunjukannya sendiri. Pada awal abad 20 inilah istilah teater Eksperimental berkembang. Banyak gaya baru yang lahir baik dari sudut pandang pengarang, sutradara, aktor ataupun penata artistik. Tidak jarang usaha mereka berhasil dan mampu memberikan pengaruh seperti gaya; Simbolisme, Surealisme, Epik, dan Absurd. Tetapi tidak jarang pula usaha mereka berhenti pada produksi pertama. Lepas dari hal itu, usaha pencarian kaidah artistik yang dilakukan oleh seniman teater modern patut diacungi jempol karena usaha-usaha tersebut mengantarkan kita pada keberagaman bentuk ekspresi dan makna keindahan.

Gaya Pementasan
Gaya dapat didefinisikan sebagai corak ragam penampilan sebuah pertunjukan yang merupakan wujud ekspresi dari:
· Cara pribadi sang pengarang lakon dalam menerjemahkan cerita kehidupan di
atas pentas
· Konvensi atau aturan-aturan pementasan yang berlaku pada masa lakon
ditulis
· Konsep dasar sutradara dalam mementaskan lakon yang dipilih untuk menegaskan makna tertentu. Gaya penampilan pertunjukan teater secara mendasar dibagi ke dalam tiga (3) gaya besar yaitu; Presentasional, Representasional (Realisme), dan Post-Realistic.

Presentasional
Hampir semua teater klasik menggunakan gaya ini dalam pementasannya. Gaya Presentasional memiliki ciri khas, “pertunjukan dipersembahkan khusus kepada penonton”. Bentuk-bentuk teater awal selalu menggunakan gaya ini karena memang sajian pertunjukan mereka benar-benar dipersembahkan kepada penonton. Yang termasuk dalam gaya ini adalah:
Ø Teater Klasik Yunani dan Romawi
Ø Teater Timur (Oriental) termasuk teater tradisional Indonesia
Ø Teater abad pertengahan
Ø Commedia dell’arte, teater abad 18
Unsur-unsur gaya Presentasional adalah:
· Para pemain bermain langsung di hadapan penonton. Artinya, karya seni pemeranan yang ditampilkan oleh para aktor di atas pentas benar-benar disajikan kepada khalayak penonton sehingga bentuk ekspresi wajah, gerak, wicara sengaja diperlihatkan lebih kepada penonton daripada antarpemain.
· Gerak para pemain diperbesar (grand style), menggunakan wicara menyamping (aside), dan banyak melakukan soliloki (wicara seorang diri).
· Menggunakan bahasa puitis dalam dialog dan wicara. Beberapa lakon yang biasa dan dapat dipentaskan dengan gaya Presentasional, di antaranya adalah:
· Romeo and Juliet, Piramus dan Thisbi, Raja Lear, Machbeth (William Shakespeare)
· Akal Bulus Scapin, Tartuff, Tabib Gadungan (Moliere)
· Oidipus (Sopokles)
· Epos dan Roman Sejarah yang biasa dipentaskan dalam teater tradisonal Indonesia

Representasional (Realisme)
Seiring berkembangya ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad 19, bersama itu pula teknik tata lampu dan tata panggung maju pesat sehingga para seniman teater berusaha dengan keras untuk mewujudkan gambaran kehidupan di atas pentas. Perwujudan dari usaha ini melahirkan gaya yang disebut Representasional atau biasa disebut Realisme. Gaya ini berusaha menampilkan kehidupan secara nyata di atas pentas sehingga apa yang disaksikan oleh penonton seolah-olah bukanlah sebuah pentas teater tetapi potongan cerita kehidupan yang sesungguhnya. Para pemain beraksi seolah-olah tidak ada penonton yang menyaksikan. Tata artistik diusahakan benar-benar menyerupai situasi sesungguhnya di mana lakon itu berlangsung.
Gaya Realisme sangat mempesona karena berbeda sekali dengan gaya Presentasional. Para penonton tak jarang ikut hanyut dalam laku cerita sehingga mereka merasakan bahwa apa yang terjadi di atas pentas adalah kejadian sesungguhnya. Unsur-unsur gaya Representasional adalah:
· Aktor saling bermain di antara mereka, beranggapan seolah-olah penonton tidak ada sehingga mereka benar-benar memainkan sebuah cerita seolah-olah sebuah kenyataan
· Menciptakan dinding keempat (the fourth wall) sebagai pembatas imajiner antara penonton dan pemain
· Konvensi seperti wicara menyamping (aside) dan soliloki sangat dibatasi
· Menggunakan bahasa sehari-hari.
Beberapa lakon yang biasa dan dapat dipentaskan dengan gaya Representasional, di antaranya adalah:
· Kebun Cherry, Burung Manyar, Penagih Hutang, Pinangan (Anton Chekov)
· Hedda Gabbler, Hantu-hantu, Musuh Masyarakat (Henrik Ibsen)
· Senja Dengan Dua Kelelawar, Penggali Intan, Penggali Kapur (Kirdjomuljo)
· Titik-titik Hitam (Nasjah Djamin)
· Tiang Debu, Malam Jahanam (Motinggo Boesje)

Dalam perkembangannya gaya Representasional atau Realisme ini melahirkan gaya-gaya baru yang masih berada dalam ruang lingkupnya yaitu; Naturalisme, Selektif Realisme, dan Sugestif Realisme (Mary McTigue, Ibid., 162).

Naturalisme merupakan sub gaya Realisme yang paling ekstrim. Gaya ini menghendaki sajian pertunjukan yang benar-benar mirip dengan kenyataan. Setiap detil dan struktur tata panggung harus benar-benar mirip seperti aslinya sehingga panggung merupakan potret kehidupan sesungguhnya. Naturalisme, selain menuntut pendekatan ilmiah, juga percaya bahwa kondisi manusia amat ditentukan oleh faktor lingkungan dan keturunan. Dalam prakteknya kaum naturalisme banyak mengungkapkan kemerosotan dan kebobrokan masyarakat golongan bawah. Dramadrama mereka penuh dengan kebusukan manusia dan hal-hal yang tak menyenangkan “dalam kehidupan”. Panggung harus menggambarkan kenyataan sebenarnya yang mereka ambil dari kehidupan nyata. Tokoh naturalisme yang sangat penting ialah Emile Zola. Ia mengangkat : “Bukan drama, tetapi kehidupan yang harus disajikan pada penonton”. Sebagai gerakan teater, naturalisme hanya hidup sampai tahun 1900 setelah itu hanya realisme yang semakin berpengaruh seiring dengan perkembangan teknologi terutama kelistrikan yang dapat diguankan untuk menunjang teknik pemanggungan.
Selektif Realisme, merupakan cabang gaya Realisme yang memilih atau menyeleksi detil tertentu dan digabungkan dengan unsur-unsur simbolik dalam manyajikan keseluruhan tata ruang yang ada di atas pentas. Misalnya, dinding, pintu, dan jendela dibuat seperti aslinya, tetapi atap rumah hanya dtampilkan dalam bentuk kerangka. Sedangkan dalam Sugestif Realisme menggunakan bagian-bagian dari bangunan atau ruang yang dipilih dan ditampilkan secara mendetil untuk memberikan gambaran sugestif bentuk keseluruhannya. Misalnya, satu tiang ditampilkan untuk memberikan gambaran ruang Istana dengan bantuan tata lampu yang mendukung, selebihnya adalah imajinasi.

Gaya Post-Realistic
Dalam abad 20, seniman seni teater melakukan banyak usaha untuk membebaskan seni teater dari batasan-batasan konvensi tertentu (Presentasional dan Representasional) dan berusaha memperluas cakrawala kreativitas baik dari sisi penulisan lakon maupun penyutradaraan. Gaya ini membawa semangat untuk melawan atau mengubah gaya Realisme yang telah menjadi konvensi pada masa itu. Setiap seniman memiliki caranya tersenidiri dalam mengungkapkan rasa, gagasan, dan kreasi artistiknya. Banyak percobaan dilakukan sehingga pada masa tahun 1950- 1970 di Eropa dan Amerika gaya ini dikenal sebagai gaya Teater Eksperimen. Meskipun pada saat ini banyak teater yang hadir dengan gaya Realisme tetapi kecenderungan untuk melahirkan gaya baru masih saja lahir dari tangan-tangan Teater kreatif pekerja seni teater. Banyak gaya yang dapat digolongkan dalam Post- Realistic, beberapa di antaranya sangat berpengaruh dan banyak di antaranya yang tidak mampu bertahan lama.

Unsur-unsur gaya Post-Realistic adalah:
· Mengkombinasikan antara unsur Presentasional dan Representasional
· Menghilangkan dinding keempat (the fourth wall), dan terkadang berbicara
langsung atau kontak dengan penonton
· Bahasa formal, sehari-hari, puitis digabungkan dengan beberpa idiom baru
atau dengan bahasa slank.

Beberapa gaya Post-Realistic yang berpengaruh adalah:
· Simbolisme, sebuah gaya yang menggunakan simbol-simbol untuk mengungkapkan makna lakon atau ekspresi dan emosi tertentu. Meskipun pada awalnya gaya ini muncul tahun 1180 di Perancis, namun baru memegang peranan berarti pada tahun 1900. Simbolisme tidak terlalu mempercayai kelima panca indera dan pemikiran rasional untuk memahami kenyataan. Intuisi dipercayai untuk memahami kenyataan karena kenyataan tak dapat dipahami secara logis, maka kebenaran itu juga tidak mungkin diungkapkan secara logis pula. Kenyataan yang hanya dapat dipahami melalui intuisi itu harus diungkapkan dalam bentuk simbol-simbol. Untuk keperluan tersebut gaya ini mencoba mensintesiskan beberapa cabang seni dalam pertunjukan seperti; seni rupa (lukisan), musik, tata lampu, seni tari, dan unsur seni visual lain. Simbolisme sering juga disebut sebagai Teater Multi-Media.
· Teatrikalisme, mencoba menarik perhatian penonton secara langsung dan            menyadarkan mereka bahwa yang mereka tonton adalah pertunjukan teater dan bukan penggal cerita kehidupan seperti dalam gaya Realisme. Sengaja menghapus “dinding keempat”, menggunakan properti imajiner atau tata dekorasi yang berganti-ganti di hadapan penonton.
· Surealisme, sebuah gaya yang mendapat pengaruh dari berkembangnya teori psikologi Sigmund Freud dalam usahanya untuk mengekspresikan dunia bawah sadar manusia melalui simbol-simbol mimpi, penyimpangan watak atau kejiwaan manusia, dan asosiasi bebas gagasan. Gaya ini begitu menarik karena penonton seolah dibawa ke alam lain atau dunia mimpi yang terkadang muskil tapi hampir bisa dirasakan dan pernah dialami oleh semua orang.
· Ekspresionisme, istilah ini diambil dari gerakan seni rupa pada akhir abad 19 yang dipelopori oleh pelukis Van Gogh dan Gauguin. Namun gerakan itu kemudian meluas pada bentuk-bentuk seni yang lain termasuk teater. Ekspresionisme sudah ada dalam teater jauh sebelum masa itu, hanya masih merupakan salah satu elemen saja dalam teater. Sebagai suatu gerakan teater, ia baru muncul tahun 1910 di Jerman. Sukses pertama teater ekspresionisme
dicapai oleh Walter Hasenclever pada tahun 1914 dengan dramanya Sang Anak. Adapun puncak gerakan ini terjadi sekitar tahun 1918 (pada saat Perang Dunia I) dan mulai merosot tahun 1925. Meskipun mula-mula ekspresionisme berkembang di Eropa, terutama selama Perang Dunia I (1914-1918), namun pengaruhnya menjangkau ke luar Eropa dan dalam masa
yang lebih kemudian. Beberapa dramawan Amerika yang terpengaruh oleh gerakan ekspresionisme ini adalah: Elmer Rice, Eugene O’neill, Marc Connelly, dan George Kaufman. Pengaruh ini terutama nampak dalam tata panggung dan elemen visual yang lebih bebas diatasnya, adegan mimpi Teater dalam lokal realistis, misalnya adalah salah satu bentuk kebebasan itu. Jadi teknik dramatik dan pendekatan-pendekatannya dalam pemanggungan merupakan pengaruh besar ekspresionisme dalam teater abad 20 (Yakob Soemardjo: 1983-1984).
· Teater Epik, disebut juga sebagai “teater pembelajaran”. Gaya ini menolak gaya Realisme, empaty, dan ilusi dalam usahanya mengajarkan teori atau pernytaan sosio-politis melalui penggunaan narasi, proyeksi, slogan, lagu, dan bahkan terkadang melaljui kontak lang sung dengan penonton. Gaya ini sering juga disebut “Teater Obsevasi”. Tokoh yang terkenal dalam gaya ini adalah Bertold Brecht. Teater epik digunakan oleh Brecht untuk melawan apa yang lazim disebut sebagai teater dramatik. Teater dramatik yang konvensional ini dianggapnya sebagai sebuah pertunjukan yang membuat penonton terpaku pasif. Sebab semua kejadian disuguhkan dalam bentuk “masa kini” seolah-olah masyarakat dan waktu  idak pernah berubah. Dengan demikian ada kesan bahwa kondisi sosial tak bisa berubah. Brecht berusaha membuat penontonnya ikut aktif berpartisipasi dan merupakan bagian vital dari peristiwa teater.
· Absurdisme, gaya yang menyajikan satu lakon yang seolah tidak memiliki kaitan rasional antara peristiwa satu dengan yang lain, antara percakapan satu dengan yang lain. Unsur-unsur Surealisme dan Simbolisme digunakan bersamaan dengan irrasionalitas untuk memberikan sugesti ketidakbermaknaan hidup manusia serta kepelikan komunikasi antarsesama. Drama-drama yang kini disebut absurd, pada mulanya dinamai eksistensialisme. Persoalan eksistensialisme adalah mencari arti “Eksistensi” atau “ada”. Apa akibat arti itu bagi kehidupan sehari-hari?. Pencarian makna “ada” ini berpusat pada diri pribadi sang manusia dan keberadaannya di dunia. Dua tokoh eksistensialis yang terkemuka adalah: Jean Paul  Sartre (1905) dan Albert Camus (1913-1960). Para dramawan setelah Sartre dan Camus lebih banyak menekankan bentuk absurditas dunia itu sendiri. Dan obyek absurd itu mereka tuangkan dalam bentuk teater yang absurd pula. Tokoh-tokoh Teater Absurd di antaranya, adalah: Samuel Beckett (1906), Jean Genet (1910), Harold Pinter, Edward Albee, dan Eugene Ionesco (1912).

g) Pandangan remaja terhadap seni teater
Setelah saya melakukan wawancara dengan anggota teater di Bandung, menurut mereka dunia teater sangat membantu dalam membentuk pribadi mereka masing-masing. Beberapa teman teater menyampaikan manfaat dan pandangan mengenai seni peran/teater. Teater menurut mereka sangat membantu membuat kami menjadi percaya diri, menjadi lebih jelas dalam berbicara, menjadi lebih ekspresif (yang dulu lebih suka memendam perasaan kini berubah), mengembangkan bakat dalam seni peran, bisa dijadikan hobi, bisa dijadikan juga sebagai karir.

1 komentar:

  1. 1xbet korean Betting at Slots.bet | Legalbet
    The latest version of Slots.bet provides comprehensive and flexible odds tables kadangpintar with top sporting 바카라사이트 markets 1xbet korean from every corner of the globe.

    BalasHapus