Jumat, 22 September 2017

MAKALAH TAWASUL DAN ZIARAH



PEMBAHASAN


A.      PENGERTIAN TAWASSUL
Tawassul atau wasilah adalah dua kata yang secara bahasa memiliki arti yang sama. Kata tawassul diambil dari kata; توسل يتوسل توسلا   Apabila seseorang melakukan suatu amal untuk mendekatkan dirinya dengan amal tersebut kepada siapa yang dimaksud. Sedang kata wasilah diambil dari kata:وسل يسل وسلا  Apabila seseorang melakukan upaya pendekatan karena suatu keinginan.
            Tawassul  menurut kamus Arab Indonesia, berasal dari kata wasala artinya berbuat kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah. Tawasul maknanya mengambil wasilah atau perantara. Adapun yang dimaksud dengan istilah tersebut adalah mencari jalan atau cara yang mendekatkan diri kepada Allah.  Caranya dengan melipat gandakan amal ibadah dan berjihad di jalan Allah untuk keberuntungannya di dunia dan akhirat kelak. Dengan bertawasul sebagaimana QS Al Maidah 35, QS Al Isra 57, berarti ia telah memenuhi perintah Allah.
            Pada era modern ini tawassul sering dikaitkan dengan syirik yang bermakna menyekutukan Allah.  Ibn Taimiyah (1263-1328) dalam kitab karangannya "Al Mujizatu wa Karamtul Auliya" ( Mujizat Nabi dan Karamah Wali), menjelaskan pembahasan yang singkat tentang mukjizat dan keramat. Sesungguhnya tidak ada hubungan timbal balik antara kewalian dengan khawariqatul adat (hal-hal yang luar biasa). Jadi, tidak setiap wali itu menunjukkan  hal-hal yang aneh. Sebaliknya, tidak pula hal yang luar biasa yang terjadi pada seseorang membuatnya otomatis menjadi wali Adapun doa termasuk ibadah. Menurut Ibnu Taymiyyah, barang siapa berdoa kepada mahluk yang sudah mati dan mahluk-mahluk lain yang gaib serta meminta pertolongannya, berarti ia telah bid'ah dalam perkara agama. Mempersekutukan Tuhan seluruh alam, dan mengikuti jalan selain orang-orang mukmin.
Hanya saja masalah sekarang yang timbul adalah masalah mendekatkan diri kepada Allah melalui para wali yang saleh.  Ibn Taymiyyah merupakan salah seorang tokoh fundamental  dan merupakan pendahulu gerakan Wahabiyyah. Nama gerakan Wahabiyyah sesuai dengan gerakan pendirinya  Muhammad Ibn Abdul Wahhab (1703 - 1787) 5). Kalangan Wahhabi memandang sejumlah amalan generasi setelahnya generasi sahabat sebagai bid'ah (menyimpang) termasuk diantaranya, membangun menara dan pemberian tanda permanen di atas makam. Paham Wahhabi juga menolak seluruh ajaran essoteris (bathiniyah) atau ajaran mistisisme dan menolak gagasan orang suci (wali), termasuk juga praktek mengunjungi makamnya. Praktek memanggil wali untuk mendapatkan berkah adalah praktek syirik. Mereka menolak seluruh anggapan kesucian (kekeramatan) barang atau tempat tertentu sebagai tindakan yang mengurangi kesucian Tuhan dan menyalahi ajaran tauhid.
Allah berfirman: artinya: “Hai orang-orang beriman bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan”. Q.S. Al Maidah: 35.


B.       DASAR HUKUM

Adapun secara naqliyah dalil-dalilnya, termaktub di dalam ayat-ayat al-Qur‘an al-Karim:
Pertama: Surat al-Ma'idah ayat 35;
     ―”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepadaNya". (QS.al-Ma‘dah: 5/35)
Kedua: Surat at-Taubah ayat 119 .TAWASUL - Mencari Allah dan Rasul Lewat Jalan        Guru
―”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama-sama orang-orang yang Shiddiq”. (QS.at-Taubah: 9/119)
Ketiga: Surat al-Baqoroh ayat 43;
―”Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan ruku'lah bersama sama orang-orang yang ruku”. (QS.al-Baqoroh: 2/43)

Ketiga ayat di atas menunjukkan bahwa Tawasul adalah perintah Allah  bagi orang yang percaya (beriman), supaya ibadah yang sedang mereka jalankan dapat dilakukan dengan khusyu. Orang yang ibadah tersebut dapat lebih terfasilitasi untuk wushul kepada-Nya, do‘a-do‘a yang mereka panjatkan lebih mendekati kepada terbukanya pintu ijabah. Bagi mereka yang tidak percaya, lebih-lebih yang menolak, maka tawasul itu tidak akan membawa kemanfaatan apa-apa baginya.
Meskipun tawasul merupakan perintah Allah, akan tetapi keadaannya bisa menjadi lain ketika makna tawasul itu dianggap oleh orang yang tidak memahami rahasia bertawasul sebagai pemberian penghormatan kepada orang lain. Dengan pandangan seperti itu menjadi maklum ketika kemudian kebanyakan nafsu manusia menolak melakukannya, bahkan mereka menuduh orang yang bertawasul itu telah mengkultus individukan orang yang ditawasuli. Terlebih bagi orang yang memang sebelumnya telah mempunyai benih penyakit kepada orang yang harus ditawasuli tersebut. Barangkali seperti itulah keadaan orang yang menolak melaksanakan tawasul kepada orang lain.
Sesungguhnya bagi orang yang di dalam hatinya ada penyakit hasut kepada orang lain, sebelum penyakit itu terlebih dahulu mampu dihilangkan, jangankan pelaksanaan tawasul, alQur‘an sekalipun, yang di dalamnya ada obat penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, bagi orang yang hatinya hasut tersebut, sedikitpun al-Qur‘an itu tidak dapat membawa kemanfaatan, bahkan hanya akan menambah kerugian bagi mereka. Allah I telah menegaskan hal tersebut dengan firman-Nya:
―”Dan Kami turunkan dari al-Qur'an suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan alQur'an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang dzalim selain kerugian. - Dan apabila Kami berikan kesenangan kepada manusia niscaya berpalinglah dia: dan membelakang dengan sikap yang sombong; dan apabila dia ditimpa kesusahan niscaya dia berputus asa. - Katakanlah: "Tiap-tiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing". Maka Tuhanmu lebih mengetahui siapa yang lebih benar jalannya”. (QS.alIsra‘; 17/82-83)

Hal itu disebabkan, karena rahmat dan obat yang ada dalam alQur‘an tersebut terlebih dahulu telah ditolak oleh hatinya sendiri. Kesembuhan yang didatangkan untuk jiwanya tidak sampai karena jalan kesembuhan itu telah tersumbat oleh kesombongan hatinya sendiri. Itulah orang yang menzalimi dirinya sendiri. Mereka selalu terlewatkan dari kesempatan mendapatkan keutamaan yang didatangkan Allah untuk dirinya sendiri akibat sikap dan peri laku yang mereka perbuat sendiri sehingga hidup mereka menjadi merugi.

C.      JENIS JENIS TAWASUL
Tawasul Syar'i
Hanya tawasul jenis ini yang diperbolehkan karena tidak mengandung kesyirikan dan dicontohkan oleh Rasullah shalallahu 'alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiyallahu 'anhum. Tawasul dalam kategori ini ada 3 bentuk
1. Tawasul dengan Zat Allah nama-nama dan sifat-sifat-Nya.
Hal ini berdasarkan firman Allah ta'ala
وَلِلَّـهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَىٰ فَادْعُوهُ بِهَا ۖ وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ ۚ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan" [QS. Al A'raf : 180]
Nabi Muhammad juga berdo'a : “… Aku memohon dengan setiap nama-Mu, yang Engkau memberi nama diri-Mu dengannya, atau yang Engkau ajarkan kepada salah satu makhluk-Mu, atau Engkau turunkan dalam kitab-Mu, atau Engkau sembunyikan dalam ilmu ghaib di sisi-Mu…” [HR Ahmad, disohihkan Al-Albani]
2. Tawasul dengan amal-amal sholih yang pernah dilakukan.
Terdapat kisah dalam hadis sohih tentang tiga orang yang terjebak dalam gua tidak bisa keluar karena mulut gua tertutup oleh batu sehingga masing masing mereka berdoa kepada Allah dengan bertawasul dengan amalan sholih yang pernah mereka kerjakan hingga Allah keluarkan mereka dari gua tersebut.
Hal ini juga dicontohkan oleh Nabi Ibrahim 'alaihi salam :
وَإِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَأَمْنًا وَاتَّخِذُوا مِن مَّقَامِ إِبْرَاهِيمَ مُصَلًّى ۖ وَعَهِدْنَا إِلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَن طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ وَالرُّكَّعِ السُّجُودِ
"Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. Dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: "Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud". [QS. Al Baqarah : 125].
3. Bertawasul dengan doa orang sholih yang masih hidup.
Hal ini pernah dilakukan oleh khalifah Umar bin Khattab radhiyallahu 'anhu tatkala terjadi paceklik di kota Madinah beliau meminta doa paman Nabi Al Abbas bin Abdul Mutholib bukan dengan Nabi dikarenakan beliau telah wafat. Begitu juga yang dilakukan Ukasyah ketika meminta Nabi Muhammad agar mendoakannya termasuk dari golongan yang masuk surga tanpa dihisab.
Allah juga mengisahkan kisah saudara-saudara yusuf dalam Al Qur'an :
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْلَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ ﴿٩٧﴾ قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُلَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُالرَّحِيمُ
"Mereka berkata: "Wahai ayah kami, mohonkanlah ampun bagi kami terhadap dosa-dosa kami, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah (berdosa)". (97) Ya'qub berkata: "Aku akan memohonkan ampun bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [QS. Yusuf : 97-98]
Tawasul Bid'ah
Tawasul jenis ini termasuk katagori tawasul yang diharamkan, bahkan dapat menjerumuskan pelakunya kedalam kesyirikan. Tawasul jenis ini adalah tawasul yang tidak pernah dicontohkan oleh Nabi maupun para Sahabat seperti bertawasul dengan kedudukan Nabi Muhammad atau para wali, contohnya ketika seseorang berkata : "Ya Allah demi kedudukan Nabi-Mu, demi kedudukan wali fulan….",
hal ini terlarang karena dua alasan :
Pertama : Dia telah bersumpah dengan selain Allah, sedangkan bersumpah dengan selain Allah adalah haram dan termasuk syirik kecil.
Kedua : Orang tersebut berkeyakinan bahwa orang lain berhak atas diri Allah, padahal Allah lah yang maha kuasa tidak ada seorang pun berhak atas diri Allah 'azza wa jalla.
Tawasul Syirik
Tawasul jenis ini tentu saja haram dan dapat membatalkan keislaman seseorang dan menyebabkan pelakunya kekal di neraka. Tawasul jenis ini yang dilakukan oleh kaum musyrikin, mereka berdoa kepada selain Allah seperti batu, pepohonan, jasad para nabi atau wali yang telah meninggal.
Allah mengisahkan dalam Al – Qur'an :
وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِن دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّـهِ زُلْفَىٰ
"Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya". [QS. Az Zumar : 3]
Dalam ayat lain Allah menyebutkan :
وَيَعْبُدُونَ مِن دُونِ اللَّـهِ مَا لَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنفَعُهُمْ وَيَقُولُونَ هَـٰؤُلَاءِ شُفَعَاؤُنَا عِندَ اللَّـهِ ۚ قُلْ أَتُنَبِّئُونَ اللَّـهَ بِمَا لَا يَعْلَمُ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ ۚ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَىٰ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: "Mereka itu adalah pemberi syafa'at kepada kami di sisi Allah". Katakanlah: "Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?" Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu)". [QS. Yunus : 18]
Kedua ayat di atas menggambarkan kondisi kaum musyrikin di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.  Mereka menyembah selain Allah sebagai perantara, mendekatkan mereka kepada Allah dan memberi syafaat bagi mereka. Mereka tidak semata-mata meminta kepada sesembahan mereka, namun sesembahan mereka hanyalah sebagai perantara dan pemberi syafaat. Kondisi ini sama persis dengan yang dilakukan kaum musyrikin zaman kita. Mereka menganggap wali yang sudah meninggal dapat menjadi perantara dan pemberi syafaat bagi mereka.

D.      TUJUAN DAN HIKMAH

1.    Bertawassul adalah menerima kenyataan yang Sebenarnya dan, hal ini, merupakan kewajiban bagi orang berakal dan, apalagi beragama. Yakni menerima kenyataan bahwa ada yang lebih dekat kepada Ridha Allah dari pada kita.
2.   Bertawassul berartimengimani jalan kebenaran agama yang ditempuh oleh yang ditawassuli dan, ini jelas keimanan pada Allah itu sendiri dan ajaran serta agamaNya.
3.   Bertawassul berarti bertawadhu kepada Allah, karena kita disuruhNya untuk menyintai wali-wali  dan nabi-nabi yang ia cintai. Jadi, tawassul yang berupa ketawadhuan kepada yang ditawassuli,  Sebenarnya berakhir pada kerendahan diri pada Allah itu sendiri.
4.  Bertawassul berarti menyintai yang dicintai Allah dan, hal ini, jelas akan dapat memancing keridhaan dan AmpunanNya.
5.   Bertawassul berarti bertawadhu kepada Nabi saw dan Ahlulbait as. Dan ini kewajiban kita sesama makhluk.
6.   Bertawassul, berarti mengikuti dan menaati Nabi saw dan Allah itu sendiri, karena Allah dan Nabi Nya saw, mengajarkan hal tsb. sampai-sampai nabi Adam.as pun diberikan nama-nama mereka as dan bertawssul dengan mereka as. Dan karena itulah Tuhan jelas memerintahkan kita untuk bertawassul ini, seperti dalam QS: 5: 35:
"Wahai orang yang beriman, bertakwalah kalian kepada Allah dan bertawssullah untuk menuju Nya (ridha dan ampunanNya)!!"
7.   Bertawssul berarti kita mengagumi para wali dan nabi as dan menyintai mereka dimana akan memberikan efek meniru ketakwaan mereka yang bersumber dari kegaguman itu.
8.  Bertawassul, berarti tidak menganggap ruh para wali dan nabi as itu, mati seperti anggapan wahabi yang materialis tapi aneh dalam setiap shalat mengucap Salam kepada Nabi saw dan kalau lewat dikuburan muslimin mengucap Salam kepada ahlul kubur.
9.   Bertawassul berati, ingin selalu dekat dengan yang ditawassuli itu. Hingga demikian, kita akan tersedot ke alam makna dan tidak hanyut dengan dunia.
10. Bertawassul berarti mengetahui sejarah yang ditawassuli dan karenanya akan membuahkan keyakinan terhadap Islam yang kita warisi dari mereka.
11. Bertwassul,berarti tidak menyukai yang tidak disukai oleh yang ditawassuli,  baik perbuatan maksiat atau musuh-musuh Tuhan dengan berbagai bajunya. Hal inilah yang disbut dengan "Tawalli dan Tabarri", yakni "Berwilayah dan Berlepas diri". Artinya berwilayah kepada yang hak dan yang shiraatalmustaqim alias maksum dan berlepas diri dari musuh- musus mereka.

E.      TATA CARA TAWASUL TQN

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اِلٰى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفٰى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ وَاَزْوَاجِهٖ وَذُرِّيّٰتِهٖ وَاَهْلِ بَيْتِهٖ اَجْمَعِيْنَ .
ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Artinya: Yaa Allah semoga disampaikan bacaan fatihah ini kehadapan Nabi Besar Muhammad Shollalloohu ‘Alaihi Wa sallam  dan kepada keluarganya, sahabat, istri, anak cucu dan ahli baitnya. Segala sesuatu hanya milik Allah, untuk mereka (kami) hadiahkan, Al fatihah
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ أَبَاِئهٖ وَأُمَّهَاتِهِ وَاِخْوَانِهٖ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاِلٰى الْمَلَاِئكَةِ المُقَرَّبِيْنَ وَالْكَرُوْبِيِّيْنَ وَالشُّهَدآءِ والصَّالِحِيْنَ وَاٰلِ كُلٍّ وَاَصْحَابِ كُلٍّ وَاِلٰى رُوْحِ أَبِيْنَا أٰدَمَ وَأُمِّنَا حَوَاءَ وَمَا تَنَاسَلَ بَيْنَهُمَا اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Artinya: Semoga disampaikan kepada ruh dari ayah-ayahnya, saudara-saudaranya dari para Nabi, Para Rasul dan malaikat muqorrobin dan mereka yang mati syahid dan kepada para sholihin dan keluarganya dan para sahabatnya dan kepada ruhnya bapak sekalian yakni Nabi Adam dan ibu kita sekalian yakni Siti Hawa dan keturunan dari keduanya hingga hari kiamat. Segala sesuatu hanya milik Allah, untuk mereka (kami) hadiahkan, Alfaatihah
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ سَادَاتِنَا وَمَوَالِيْنَا وَاَئِمَّتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَاِلٰى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Artinya: Semoga disampaikan kepada ruh-ruh para pembesar kita dan kepada yang mengurus kita dan kepada para imam kita sekalian yakni Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali dan kepada semua sahabat dan kerabat, kepada taabi’iin yang berbuat kebajikan hingga hari kiamat. Segala sesuatu hanya milik Allah, untuk mereka (kami) hadiahkan, Alfaatihah
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ اَئِمَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِيْنَ فِي الدِّيْنِ وَالْعُلَمَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَالْقُرَّآءِ الْـمُخْلِصِيْنَ وَاَهْلِ التَّفْسِيْرِ وَالْـمُحَدِّثِيْنَ وَسَائِرِ السَّادَاتِ الصُّوفِيَّةِ الْـمُحَقِّقِيْنَ وَاِلٰى أَرْوَاحِ كُلِّ وَلِيٍّ وَوَلِيَّةٍ وَمُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ اِلٰى مَغَارِبِهَا وَمِنْ يَمِيْنِهَا اِلٰى شِمَالِهَا . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ أَهْلِ السِّلْسِلَةِ الْقَادِرِيَّةِ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ مَعْهَدِ سُرْيَالَيَا وَجَمِيْعِ أَهْلِ الطُّرُقِ خُصُوْصًا اِلٰى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَاءِ غَوْثِ الْأَعْظَمِ قُطْبِ الْعَالَمِيْنَ السَّيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِي قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي الْقَاسِمِ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِي وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ مَعْرُوْفِ الْكَرَخِي وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ سِرِّ السَّقَطِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ حَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ جَعْفَرِ الصَّادِقِ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ يُوْسُفُ الْهَمَدَانِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي يَزِيْدِ الْبُسْطَامِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ سَاهْ بَهَاءُ الدِّيِنِ النَّقْشَبَنْدِيِّ وَحَضْرَةِ إِمَامِ الرَّبَّانِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ خَاطِبِ ابْنِ عَبْدِ الْغَفَّارِ السَّمْبَاسِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ طَلْحَةَ كَالِي سَافُو السِرْبَوْنِي وَحَضْرَةِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللّٰهِ مُبَارَكِ بْنِ نُوْرِ مُحَمَّدٍ وَشَيْخِنَا الْمُكَرَّمِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ صَاحِبُ الْوَفٰى تَاجِ الْعَارِفِيْنَ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَاَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَالْأۤخِذِيْنَ عَنْهُمْ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Artinya: Semoga (Rahmat Allah) disampaikan kepada Arwah guru-guru dalam silsilah Thoriqot Qoodiriyyah Naqsyabandiyyah Pondok Pesantren Suryalaya dan kepada semua ahli thoriqot, khususnya kepada ruhnya wali penolong agung, panutan alam, yakni Syaikh Abdul Qodir al Jailani Semoga Allah mensucikan rahasia jiwanya, dan pimpinan golongan tasawwuf Abil Qosim Junaid al Baghdadi dan Sayyid Syaikh Ma’ruf al Karkhi dan Sayyid Syaikh Sirri Assaqathi dan Sayyid Syaikh Habib Al-Ajami dan Sayyid Syaikh Hasan al Basri dan Sayyid Syaikh Ja’far Shodiq dan Sayyid Syaikh Yusuf al Hamdani dan Sayyid Syaikh Abi Yazid al Bushtami dan Sayyid Syaikh Bahauddin Naqsyabandi dan Imam Robbani dan Sayyid Syaikh Ahmad Khatib Sambas bin ‘Abdul Ghoffar dan Syaikh Tholhah Kalisapu Cirebon dan kepada guru kita yang dimuliakan Syaikh Abdulloh Mubarok bin Nur Muhammad dan kepada Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul 'Arifin , kepada anak keturunannya dan ahli keluarga silsilah serta semua yang mengambil berkah dari mereka. Segala sesuatu hanya milik Allah, untuk mereka (kami) hadiahkan, Alfaatihah
ثُمَّ اِلٰى أَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْكُمْ وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِكُمْ وَاَمْوَاتِنَا وَاَمْوَاتِكُمْ وَلِمَنْ أَحْسَنَ اِلَيْنَا وَلِمَنْ لَهٗ حَقٌّ عَلَيْنَا وَلِمَنْ أَوْصَانَا وَاسْتَوْصَانَا وَقَلَّدَنَا عِنْدَكَ بِدُعَاءِ الـْخَيْرِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Artinya: Semoga disampaikan kepada arwah ayah-ayah kami dan ayahmu sekalian, dan bagi arwah guru-guru kami dan arwah guru-gurumu sekalian, dan kepada mereka yang telah meninggal dunia dari pihakku dan dari pihakmu sekalian, kepada mereka yang mempunyai haq terhadap kita sekalian. Kepada mereka yang telah berwasiat kepada kita sekalian, kepada mereka yang meminta wasiat dari kita sekalian, dan mengikuti kita  di jalan ridho-Mu dengan do’a kebaikan. Segala sesuatu hanya milik Allah, untuk mereka (kami) hadiahkan, Alfaatihah
ثُمَّ اِلٰى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ اِلٰى مَغَارِبِهَا مِنْ يَمِيْنِهَا اِلٰى شِمَالِهَا وَمِنْ قَافٍ اِلٰى قَافٍ مِنْ وَ لّدِ اٰدَمَ اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
Artinya: Semoga disampaikan kepada seluruh saudara-saudara kami, baik mukminin maupun muslimah, dan muslim serta muslimah. Baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal dunia, mulai dari timur hingga barat dunia, dari selatan hingga utara dunia, dan dari Gunung Qaf ke Gunung Qaf, mulai dari Adam sampai hari kiamat. Segala sesuatu hanya milik Allah, untuk mereka (kami) hadiahkan, Al fatihah

لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ (١) اللّٰهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)
وَلَمْ يَكُنْ لَهٗ كُفُوًا أَحَدٌ (٤) (x 3)

لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣)  وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)


لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ  (١) مَلِكِ النَّاسِ  (٢)  إِلٰهِ النَّاسِ (٣)  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ(٤) الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (٦)

لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 
(١) 
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)  الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ (٣)  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (٤) إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اِهدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(٦)  صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضّٰآلِّينَ  (٧)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
الۤمۤ (١)  ذٰلِكَ الْكِتَـابُ لاَ رَيْبَۛ فِيهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ  (٢)  الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ(٣)  وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ((٤   أُوْلۤئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولۤئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(٥)
وَإِلٰـهُكُمْ إِلٰهٌ وَّاحِدٌ لَاۤ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ
اَللّٰهُ لَاۤ إِلٰـهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهٗ مَا فِي السَّمٰوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
إِنَّاۤ أَنزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ (١)   وَمَاۤ أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ  (٢)  لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ(٣)  تَنَزَّلُ الْمَلٰئِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِم مِّن كُلِّ أَمْرٍ    سَلٰـمٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ(٥)


بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
وَالْعَصْرِ (١)   إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ  (٢)  إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَاصَوْا بِالْـحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ  (٣)   
.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
إِذَا جَاۤءَ نَصْرُ اللّٰهِ وَالْفَتْحُ  (١)    وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِيْنِ اللّٰهِ أَفْوَاجًا  (٢)   فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهٗ كَانَ تَوَّابًا (٣)
إِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يٰۤـأَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
اَللّٰهُمَّ صَلِّ صَلَاةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلَاماً تَامًّا عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَـمَّدِنِ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ وَتُقْضٰى بِهِ الْحَوَائـِجُ وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الـْخَوَاتِمِ وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيمِ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ فِيْ كُلِّ لَـمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُومٍ لَكَ (x 3)
اَلْفَاتِحَــةْ ...






A.    PENGERTIAN  ZIARAH KUBUR
Secara etimologi ziarah berasal dari kata ﺯَﺍﺭﻩُﻳَﺰُﻭﺭُﻩُﺯِﻳَﺎﺭَﺓً ﻭَﺯَﻭْﺭًﺍ yang berarti ﻗَﺼَﺪَﻩُ, yaitu hendak bepergian menuju suatu tempat (al Mishbahul Munir 4/119, lihat juga al Qamus al Fiqhi 1/160). Berdasarkan hal ini makna dari berziarah kubur adalah ﻗَﺼَﺪﺍْﻟﻘُﺒُﻮْﺭَ , sengaja untuk bepergian ke kuburan. Sedangkan dalam terminologi syar’i, makna ziarah kubur adalah sebagaimana yang dikemukakan oleh al Qadli ‘Iyadl rahimahullah, ﺯﻳﺎﺭﺓﺍﻟﻘﺒﻮﺭﻗﺼﺪﻫﺎﻟﻠﺘﺮﺣﻢ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﻭﺍﻹﻋﺘﺒﺎﺭ ﺑﻬﻢ“(Yang dimaksud dengan ziarah kubur) adalah mengunjunginya dengan niat mendo’akan para penghuni kubur serta mengambil pelajaran dari keadaan mereka” (al Mathla’‘alaa Abwabil Fiqhi 1/119; Asy Syamilah).
Jadi, Ziarah kubur ialah berkunjung ke makam/pesarean orang Islam yang sudah wafat, baik orang muslim biasa, orang shalih, ulama, wali atau Nabi.
Ulama Ahlussunnah sepakat bahwa hukum ziarah kubur bagi kaum laki-laki itu hukumnya sunat secara mutlak, baik yang diziarahi itu kuburnya orang Islam biasa, kuburnya para wali, orang shalih atau kuburnya Nabi.
Sedangkan hokum ziarah kubur bagi kaum perempuan yang telah mendapat izin dari suaminya atau walinya, para ulama mantafsil sebagai berikut :
a.       Jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarahi itu kuburnya Nabi, wali, ulama dan orang shalih, maka hukumnya sunat;
b.      Jika ziarahnya tidak menimbulkan hal yang terlarang dan yang diziarahi itu kuburnya orang biasa, maka sebagian ulama mengatakan boleh, sebagian lagi mengatakan makruh.
c.       Jika ziarahnya menimbulkan hal yang terlarang, maka hukumnya haram.

B.     DALIL DAN DASAR HUKUM ZIARAH KUBUR

1.      Hadits Nabi SAW.
كنت نهيتكم عن زيارة القبور ألا فزورها فإنها ترق القلب وتدمع العين وتذكر الآخرة، ولا تقولوا هجرا .[رواه الحاكم]

Artinya :
“Aku (Nabi) dulu melarang kamu ziarah kubur, maka sekarang berziarahkuburlah kamu, karena ziarah kubur itu bisa melunakkan hati, bisa menjadikan air mata bercucuran dan mengingatkan adanya alam akhirat, dan janganlah kamu berkata buruk”. (HR. Hakim)

عن عائشة رضي الله عنها قالت : كان النبي صلى الله عليه وسلم كلما كانت ليلتها يخرج من آخر الليل إلى البقيع فيقول : السلام عليكم دار قوم مؤمنين وأتاكم ما توعدون غدا مؤجلون وإنا إن شاء الله بكم لاحقون، اللهم اغفر لأهل بقيع الغقد. [رواه مسلم]

Artinya :
“Dari A’isyah ra. ia berkata : “adalah Nabi SAW. ketika sampai giliran beliau padanya (A’isyah) beliau keluar pada akhir malam hari itu ke kuburan Baqi’ seraya berkata : “Assalamu’alaikum hai tempat bersemayam kaum mukminin. Akan datang kepada kamu janji Tuhan yang ditangguhkan itu besok, dan kami Insya Allah akan menyusul kamu. Hai Tuhan ampunilah ahli Baqi’ al-Gharqad”. (HR. Muslim)
2.      Fatwa Syaikh Amin al-Kurdi dalam kitabnya Tanwirul Qulub :

تسن زيارة قبور المسلمين للرجال لأجل تذكر الموت والآخرة وإصلاح فساد القلب ونفع الميت بما يتلى عنده من القرآن لخبر مسلم : كنت نهيتكم عن زيارة القبور فزورها. ولقوله عليه الصلاة والسلام : اطلع في القبور واعتبر في النشور. رواه البيهقي خصوصا قبور الأنبياء والأولياء وأهل الصلاح. وتكره من النساء لجزعنهن وقلة صبرهن، ومحل الكراهة إن لم يشتمل اجتماعهن على محرم وإلا حرم، ويندب لهن زيارة قبره صلى الله عليه وسلم وكذا سائر الأنبياء والعلماء والأولياء. اهـ [تنوير القلوب : 216]
Artinya :
“Disunatkan bagi kaum laki-laki berziarah kuburnya orang-orang Islam untuk mengingat datangnya kematian dan adanya alam akhirat, serta memperbaiki hati yang buruk dan memberi manfaat kepada mayit dengan bacaan ayat-ayat Al-Qur’an di tempat yang dekat dengannya, karena ada hadits riwayat Muslim yang artinya : “Aku (Nabi) dulu melarang kamu berziarahkubur, maka sekarang berziarahkuburlah kamu”. Dan juga sabda Nabi yang artinya : “Berziarahlah kubur kamu dan ambillah tauladan tentang adanya hari kebangkitan”. (HR. Muslism). Khususnya kuburan para Nabi, para wali dan orang-orang shalih. Sedangkan bagi kamu wanita ziarah kubur hukumnya makruh, karena mereka mudah meratap dan sedikit yang sabar. Makruh bagi wanita tersebut apabila ziarah mereka itu tidak mengandung hal-hal yang diharamkan, kalau mengandung hal-hal yang diharamkan, maka ziarah mereka hukumnya haram. Bagi wanita berziarah kubur ke makam Nabi Muhammad SAW. dan juga nabi-nabi yang lain demikian pula makam para ulama dan para wali hukumnya sunat”.

3.      Fatwa Syaikh Ali Ma’shum dalam kitabnya “Hujjatu Ahlissunnah” bab ziarah kubur :

واختلف في زيارة النساء للقبور، فقال جماعة من أهل العلم بكراهيتها كراهة تحريم أو تنزيه لحديث أبي هريرة أن رسول الله صلى الله عليه وسلم لعن زوارات القبور. رواه أحمد وابن ماجه والترمذي. وذهب الأكثرون إلى الجواز إذا أمنت الفتنة، واستدلوا بما رواه مسلم عن عائشة قالت : كيف أقول يا رسول الله إذا زرت القبور؟ قولي : السلام عليكم أهل ديار المسلمين. اهـ [حجة أهل السنة للشيخ على معصوم : 58]
Artinya:
"Para ulama berselisih pendapat mengenai kaum wanita berziarah kubur, Segolongan ulama mengatakan makruh tahrim atau tanzih, karena ada Hadits riwayat Abu Hurairah bahwa Rusulullah SAW. mengutuk wanita-wanita yang berziarah kubur. (HR. Ibun Majah dan Tirmidzi). Sementara mayoritas ulama mengatakan boleh, apabila terjamin keamanannya dari fitnah, Dalilnya yaitu hadits riwayat Muslim dari Siti A’isyah ra dia berkata : apa yang saya baca ketika ziarah kubur, hai rasul? Rasul bersabda : bacalah Assalamu’alaikum Ahla Diyaril Muslimin”.

C.    MACAM-MACAM ZIARAH KUBUR
Ketahuilah bahwasannya ziarah kubur itu terbagi menjadi tiga macam. Di bawah ini akan dijelaskan macam-macamnya, dan kita dapat mengambil kesimpulan setelah itu. Macam-macamnya adalah sebagai berikut.

1.      Ziarah syar’iyyah
Yaitu ziarah yang telah disyari’atkan oleh Islam dan harus terpenuhi padanya tiga syarat.
a.       Tidak sungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan kepadanya
Dalilnya adalah hadits dari Abu Sa’id Al-Khudriy radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah SAW. bersabda (yang artinya), "Janganlah kalian bersungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan kecuali kepada tiga masjid (yaitu): masjidku ini (Masjid Nabawi), Masjidil Haram, dan Masjidil Aqsha." (HR. Al-Bukhariy no.1139 dan Muslim dalam kitab Al-Hajj 2:976 no.  khusus 415 dan ini lafazdnya, dan diriwayatkan pula oleh Al-Bukhariy no.1132 dan Muslim no.1397 dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dengan lafazh penafian).
Kita disyari’atkan bersungguh-sungguh dan menyengaja untuk mengadakan perjalanan ke tiga masjid ini karena adanya keutamaan di sana yaitu dilipatkan pahala shalat di tiga masjid tersebut. Seperti shalat di Masjidil Haram maka pahalanya sama dengan 100.000 kali shalat di masjid yang lain selain Masjid Nabawi dan Masjidil Aqsha. Adapun bersungguh-sungguh (menyengaja) mengadakan perjalanan ke selain tiga masjid ini dalam rangka mencari berkah dan keutamaan seperti ke kuburan, maka ini adalah perbuatan bid’ah.
b.      Tidak boleh mengatakan perkataan yang keji
Dalilnya adalah hadits dari Buraidah radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah SAW.  bersabda (yang artinya), "(Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) berziarahlah kalian." (HR. Muslim no.977). Diriwayatkan juga oleh An-Nasa’iy dengan sanad shahih dalam kitab Al-Janaa’iz bab (100) 4:89. http://ikhwanmuslim.com,diakses 7-1-2011) dengan lafazh, "… (Dulu) Aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka (sekarang) barangsiapa yang ingin berziarah maka berziarahlah dan jangan mengatakan perkataan yang keji."
Maka hal seperti ini, demi Allah benar-benar kekejian dan kebathilan yang paling puncaknya, akan tetapi perkaranya adalah sebagaimana yang Allah firmankan (yang artinya), "Akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." Ayat ini terdapat dalam 11 tempat di dalam Al-Qur`an yaitu, Al-A’raaf:187, Yuusuf:21, 40, 68, An-Nahl:38, Ar-Ruum:6, 30, Saba’:28, 36, Al-Mu`min:57, dan Al-Jaatsiyah:26.
Dan sungguh benar Allah ketika berfirman (yang artinya),"Dan sebahagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan mempersekutukan Allah (dengan sembahan-sembahan lain)." [Yuusuf:106]
c.       Tidak boleh mengkhususkan dengan waktu tertentu karena tidak ada dalil yang mengkhususkan
Seperti mengkhususkan hari jum’at, hari raya ataupun hari-hari lainnya, karena tidak ada dalil yang menerangkan hal ini. Bahkan kita dianjurkan ziarah kubur kapan saja tanpa pengkhususan pada hari-hari tertntu.


2.      Ziarah bid’iyyah
Ziarah bid’iyyahadalah tata cara ziarah kubur yang menyelisihi tuntunan Nabi SAW. karena mengandung berbagai pelanggaran yang dapat mengurangi kesempurnaan tauhid dan dapat menghantarkan pada kesyirikan. Diantaranya adalah berziarah ke kubur dengan tujuan beribadah kepada Allah di sisi kubur, atau bertujuan untuk mendapatkan berkah (tabarruk/ngalap berkah).
Tidak terdapat dalil shahih yang menyatakan keutamaan beribadah di samping kubur bahkan terdapat dalil shahih yang secara tegas melarang peribadatan di  kuburan.
Abul ‘Abbas al Harrani rahimahullah mengatakan, “yang dimaksud dengan tata cara ziarah bid’iyyahadalah seperti bersengaja untuk shalat atau berdo’a di samping kubur para nabi atau orang shalih, menjadikan penghuni kubur tersebut sebagai perantara dalam doa, meminta kepada penghuni kubur untuk menunaikan hajatnya, meminta pertolongan padanya, atau bersumpah kepada Allah dengan perantaraan penghuni kubur atau yang semisalnya. Semua hal tersebut merupakan bid’ah yang tidak pernah dilakukan seorang sahabat, tabi’in dan tidak juga dituntunkan oleh rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, tidak pula dicontohkan oleh Khulafur Rasyidin, bahkan para imam kaum muslimin yang masyhur melarang seluruh hal tersebut.” (Majmu’ul Fataawa 24:334-335. http://ikhwanmuslim.com, diakses 7-1-2011)
An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Barangsiapa yang terbersit di benaknya bahwa mengusap tangan (di kubur nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam atau semisalnya) lebih mampu untuk mendatangkan berkah, maka hal tersebut berasal dari kebodohan dan kelalaiannya karena berkah hanya dapat diperoleh dengan amal yang sesuai dengan syari’at. Bagaimana bisa karunia Alloh diperoleh dengan melakukan amal yang menyelisihi kebenaran.” (Al Majmu’ 8:275. http://ikhwanmuslim.com, diakses 7-1-2011 ). Abu Hamid al-Ghazali rahimahullah menyatakan tabarruk terhadap kubur merupakan ciri kaum Yahudi dan Nasrani,
                                               فإن المس والتقبيل للمشاهد عادة النصارى واليهود
Artinya
“Sesungguhnya mengusap dan mencium kubur (untuk mendapatkan berkah) merupakan kebiasaan kaum Nasrani dan Yahudi.” (Ihya’ ‘Ulumuddin juz 1:254. http://ikhwanmuslim.com, diakses 7-1-2011).
3.      Ziarah syirkiyyah
Ziarah yang mengandung penentangan terhadap tauhid dan dapat menghilangkan keimanan. Diantaranya berziarah kubur dengan tujuan meminta bantuan dan pertolongan pada penghuni kubur, menyembelih kurban untuk penghuni kubur (baca: sesajen). Hal tersebut merupakan bentuk beribadah kepada selain Allah dan apabila pelaku sebelumnya adalah orang Islam, maka dia telah murtad ( keluar dari Islam).
Imam An-Nawawi rahimahullah mengatakan, “Adapun menyembelih untuk selain Allah, maka maksudnya adalah menyembelih dengan menyebut nama selain Allah SWT. Seperti orang yang menyembelih untuk berhala, salib, Musa, Isa alaihimassalam, atau untuk Ka’bah dan semisalnya. Seluruh perbuatan ini haram, daging sembelihannya haram dimakan, baik si penyembelih seorang Muslim, Nasrani ataupun Yahudi. Demikian yang ditegaskan imam Asy Syafi’i dan disetujui oleh rekan-rekan kami. Apabila si penyembelih melakukannya dengan diiringi pengagungan terhadap objek tujuan penyembelihan, yaitu makhluk selain Allah dan dalam rangka beribadah kepadanya, maka hal ini merupakan kekafiran. Apabila pelaku sebelumnya adalah seorang muslim, maka dengan perbuatan tersebut dia telah murtad” (al Minhaj Syarh Shahih Muslim 13:141. http://ikhwanmuslim.com, diakses 7-1-2011).
D.   TUJUAN DAN HIKMAH ZIARAH
      1.      Mengingatkan kita akan kematian.
 Kita sadar bahwa kitapun akan mati, hanya tinggal menunggu waktunya.seperti orang yang kita ziarahi itu sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
قَالَ النَّبِيُّ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَكْثِرُوْا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ (رواه الترمذى)                     
Artinya :
”Rasulullah SAW bersabda,”Perbanyaklah mengingat akan hal yang membinasakan kelezatan (yaitu kematian)”. (HR.Turmudzi)
      2.      Mernpertebal keimanan terhadap adanya alam akhirat, sehingga orang itu meningkat ketaqwaannya kepada Allah SWT.;
      3.      Memperbaiki hati yang buruk/mental yang rusak, sehingga pada akhirnya nanti orang itu sadar akan perlunya mempererat hablum minallah dan hablum minannas.
      4.      Memberi manfaat kepada mayit secara khusus dan ahli kubur secara umum berupa pahala dari bacaan Al-Qur’an, kalimah Thoyyibah, Istighfar, shalawat Nabi dan lain-lain.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa ziarah kubur itu bukan sebuah larangan, tetapi sebuah perbuatan yang dianjurkan oleh agama.

E.    TATA CARA ZIARAH TQN

Jika berziarah kubur sebaiknya kita ada wudhu yang sempurna dan selalu hidupkan dzikir khofi dalam diri, jangan lupa ucapkan salam ketika akan memasuki makam sebagai berikut: 
السلامعلیکم اھل الدیارمن المءمنین والمسلمین واناان شاءاللہ بکم لاحقون نسأل اللہ لناولکم العافیہ
 Artinya:
”Selamat sejahtera atas kamu penduduk daerah kaum mu’minin dan muslimin,dan bila Allah menghendaki kami akan menyusulmu,kami mohon kepada Allah untuk kami dan kamu agar sejahtera.”
{HR.Muslim dr Buroidah r.a.}:
 Dan berziarah ke makam para waliyulloh sampaikan salam dengan lafaz berikut :
اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ يَا وَلِيَّ اللّٰهِ تَحِيَّةً مِنِّي إِلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللّٰهِ وَبَرَكَاتُهُ
Artinya : Salam bagimu Wahai Kekasih Alloh, hormat dariku (bila sendiri) / dari kami (jika bersama-sama) dengan Rahmat Alloh dan Berkah-Nya.

    Perlu diperhatikan adab yang baik ketika memasuki makam, masuklah dengan kaki kanan penuh dengan rasa hormat/tawadhu, rasa cinta kepada para waliyulloh yang kita ziarahi. Dan tetaplah ketauhidan kita tidak luntur bahwa segala sesuatu akan dikabulkan dan terjadi hanyalah atas Kehendak Allah Subhana wa'ala....
Berikut ini bacaan ziarah kubur/khaull/tahlilan yang dicontohkan oleh Guru Mursyid TQN PP.Suryalaya Sayyidi Syaikh Ahmad Shohibul Wafa Tajul 'Arifin Ra.:

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اِلٰى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفٰى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ وَاَزْوَاجِهٖ وَذُرِّيّٰتِهٖ وَاَهْلِ بَيْتِهٖ اَجْمَعِيْنَ .
ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ أَبَاِئهٖ وَأُمَّهَاتِهِ وَاِخْوَانِهٖ مِنَ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ وَاِلٰى الْمَلَاِئكَةِ المُقَرَّبِيْنَ وَالْكَرُوْبِيِّيْنَ وَالشُّهَدآءِ والصَّالِحِيْنَ وَاٰلِ كُلٍّ وَاَصْحَابِ كُلٍّ وَاِلٰى رُوْحِ أَبِيْنَا أٰدَمَ وَأُمِّنَا حَوَاءَ وَمَا تَنَاسَلَ بَيْنَهُمَا اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ سَادَاتِنَا وَمَوَالِيْنَا وَاَئِمَّتِنَا أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيّ وَاِلٰى بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالْقَرَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَتَابِعِ التَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلٰى يَوْمِ الدِّيْنِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ اَئِمَّةِ الْمُجْتَهِدِيْنَ وَمُقَلِّدِيْنَ فِي الدِّيْنِ وَالْعُلَمَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَالْقُرَّآءِ الْـمُخْلِصِيْنَ وَاَهْلِ التَّفْسِيْرِ وَالْـمُحَدِّثِيْنَ وَسَائِرِ السَّادَاتِ الصُّوفِيَّةِ الْـمُحَقِّقِيْنَ وَاِلٰى أَرْوَاحِ كُلِّ وَلِيٍّ وَوَلِيَّةٍ وَمُسْلِمٍ وَمُسْلِمَةٍ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ اِلٰى مَغَارِبِهَا وَمِنْ يَمِيْنِهَا اِلٰى شِمَالِهَا . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ أَهْلِ السِّلْسِلَةِ الْقَادِرِيَّةِ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ مَعْهَدِ سُرْيَالَيَا وَجَمِيْعِ أَهْلِ الطُّرُقِ خُصُوْصًا اِلٰى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَاءِ غَوْثِ الْأَعْظَمِ قُطْبِ الْعَالَمِيْنَ السَّيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِي قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي الْقَاسِمِ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِي وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ مَعْرُوْفِ الْكَرَخِي وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ سِرِّ السَّقَطِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ حَسَنِ الْبَصْرِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ جَعْفَرِ الصَّادِقِ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ يُوْسُفُ الْهَمَدَانِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَبِي يَزِيْدِ الْبُسْطَامِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ سَاهْ بَهَاءُ الدِّيِنِ النَّقْشَبَنْدِيِّ وَحَضْرَةِ إِمَامِ الرَّبَّانِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ خَاطِبِ ابْنِ عَبْدِ الْغَفَّارِ السَّمْبَاسِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ طَلْحَةَ كَالِي سَافُو السِرْبَوْنِي وَحَضْرَةِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللّٰهِ مُبَارَكِ بْنِ نُوْرِ مُحَمَّدٍ وَشَيْخِنَا الْمُكَرَّمِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ صَاحِبُ الْوَفٰى تَاجِ الْعَارِفِيْنَ  وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَاَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَالْأۤخِذِيْنَ عَنْهُمْ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

ثُمَّ اِلٰى أَرْوَاحِ وَالِدِيْنَا وَوَالِدِيْكُمْ وَمَشَايِخِنَا وَمَشَايِخِكُمْ وَاَمْوَاتِنَا وَاَمْوَاتِكُمْ وَلِمَنْ أَحْسَنَ اِلَيْنَا وَلِمَنْ لَهٗ حَقٌّ عَلَيْنَا وَلِمَنْ أَوْصَانَا وَاسْتَوْصَانَا وَقَلَّدَنَا عِنْدَكَ بِدُعَاءِ الـْخَيْرِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

ثُمَّ اِلٰى أَرْوَاحِ جَمِيْعِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ والْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ مِنْ مَشَارِقِ الْأَرْضِ اِلٰى مَغَارِبِهَا مِنْ يَمِيْنِهَا اِلٰى شِمَالِهَا وَمِنْ قَافٍ اِلٰى قَافٍ مِنْ وَ لّدِ اٰدَمَ اِلٰى يَوْمِ الْقِيَامَةِ . ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ

لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ هُوَ اللّٰهُ أَحَدٌ (١) اللّٰهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣)
وَلَمْ يَكُنْ لَهٗ كُفُوًا أَحَدٌ (٤) (x 3)
لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ  
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (١) مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ (٢) وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ (٣)  وَمِنْ شَرِّ النَّفّٰثٰتِ فِي الْعُقَدِ (٤) وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ (٥)

لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ  (١) مَلِكِ النَّاسِ  (٢)  إِلٰهِ النَّاسِ (٣)  مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ((٤ الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (٥) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (٦)
لَااِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَاللّٰهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ 
(١) 
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (٢)  الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ (٣)  مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ ((٤ إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (٥) اِهدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ(٦)  صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلاَ الضّٰآلِّينَ  (٧)
.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْم
الۤمۤ (١)  ذٰلِكَ الْكِتَـابُ لاَ رَيْبَۛ فِيهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِينَ  (٢)  الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ(٣)  وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنزِلَ مِن قَبْلِكَ وَبِالآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ ((٤   أُوْلۤئِكَ عَلَى هُدًى مِّن رَّبِّهِمْ وَأُولۤئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ(٥)

وَإِلٰـهُكُمْ إِلٰهٌ وَّاحِدٌ لَاۤ إِلٰهَ إِلَّا هُوَ الرَّحْمٰنُ الرَّحِيْمُ

اَللّٰهُ لَاۤ إِلٰـهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّوْمُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهٗ مَا فِي السَّمٰوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهٗ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيْطُوْنَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمٰوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَؤُوْدُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيْمُ

أَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ الْغَفُوْرَ الرَّحِيْمَ  (x 3)
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَصَحْبِهٖ وَسَلِّمْ (x 3)
إِلٰهِي أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِي أَعْطِنِي مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ
لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ  (x 3)
Kemudian dilanjutkan dengan Zikir sekurang-kurangnya 165x. Lebih banyak lebih baik dan Zikir diakhiri pada hitungan bilangan ganjil.
Adapun penutup Zikir adalah dengan membaca :
سَيِّدُنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kemudian berdoa dengan doa berikut ini :
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلَاةً تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْأَهْوَالِ وَالْأٰفَاتِ وَتَقْضِي لَنَا بِهَا جَمِيْعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَّيِّأٰتِ وَتَرْفَعُنَا بِهَا عِنْدَكَ أَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَا بِهَا أَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْـخَيْرَاتِ فِي الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ، إِنَّ الَّذِينَ يُبَايِعُوْنَكَ إِنَّمَا يُبَايِعُوْنَ اللّٰهَ يَدُ اللّٰهِ فَوْقَ أَيْدِيْهِمْ فَمَنْ نَكَثَ فَإِنَّمَا يَنْكُثُ عَلٰى نَفْسِهٖ وَمَنْ اَوْفٰى بِمَا عَاهَد عَلَيْهُ اللّٰهُ فَسَيُؤْتِيْهِ أَجْرًا عَظِيْمًا .
Do’a ini dapat ditambah dengan do’a-do’a lainnya yang dikehendaki.
{ Kemudian dilanjutkan dengan Zikir berikut ini  }
اِلٰى حَضْرَةِ النَّبِيِّ الْمُصْطَفٰى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَعَلٰى اٰلِهٖ وَاَصْحَابِهٖ وَاَزْوَاجِهٖ وَذُرِّيّٰتِهٖ وَاَهْلِ بَيْتِهٖ  اَجْمَعِيْنَ. ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
ثُمَّ اِلٰى اَرْوَاحِ أَهْلِ السِّلْسِلَةِ الْقَادِرِيَّةِ النَّقْشَبَنْدِيَّةِ مَعْهَدِ سُرْيَالَيَا وَجَمِيْعِ أَهْلِ الطُّرُقِ خُصُوْصًا اِلٰى حَضْرَةِ سُلْطَانِ الْأَوْلِيَاءِ غَوْثِ الْأَعْظَمِ قُطْبِ الْعَالَمِيْنَ السَّيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ الْقَادِرِ الْجَيْلَانِي قَدَّسَ اللّٰهُ سِرَّهُ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أبِي الْقَاسِمِ جُنَيْدِ الْبَغْدَادِي وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ خَاطِبِ ابْنِ عَبْدِ الْغَفَّارِ السَّمْبَاسِيِّ وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ طَلْحَةَ كَالِي سَافُو السِرْبَوْنِي وَالسَّيِّدِ الشَّيْخِ عَبْدِ اللّٰهِ مُبَارَكِ بْنِ نُوْرِ مُحَمَّدٍ وَشَيْخِنَا الْمُكَرَّمِ الشَّيْخِ أَحْمَدَ صَاحِبِ الْوَفٰى تَاجِ الْعَارِفِيْنَ وَأُصُوْلِهِمْ وَفُرُوْعِهِمْ وَاَهْلِ سِلْسِلَتِهِمْ وَالْأۤخِذِيْنَ عَنْهُمْ ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ 
ثُمَّ اِلٰى أَرْوَاحِ أٰبَائِنَا وَأُمَّهَاتِنَا وَلِكَافَّةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ ﺷَﻲْﺀٌ لِلّٰهِ  لَهُمُ الْفَاتِحَةُ
اَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ رَبِّي مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ (x 3)
اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ اِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى أٰلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا اِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى أٰلِ اِبْرَاهِيْمَ فِي الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ
Kemudian membaca :
إِلٰهِي أَنْتَ مَقْصُوْدِيْ وَرِضَاكَ مَطْلُوْبِي أَعْطِنِي مَحَبَّتَكَ وَمَعْرِفَتَكَ

Selanjutnya TAWAJJUH dengan cara :
Kepala ditundukkan ke sebelah kiri
Kedua mata terpejam;
Bibir dirapatkan;
 Lidah dilipatkan ke langit-langit;
Gigi dirapatkan tidak bergerak;
Menahan nafas sekuatnya;
Hati tanpa berhenti ber- ZIKIR KHOFI sekuatnya.
Kemudian dilanjutkan dengan sholawat bani hasyim (3 X)




      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar