Jumat, 22 September 2017

MAKALAH MORBILI CAMPAK



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyakit Campak sering menyerang anak anak balita. Penyakit ini mudah menular kepada anak anak sekitarnya, oleh karena itu, anak yang menderita Campak harus diisolasi untuk mencegah penularan. Campak disebabkan oleh kuman yang disebut Virus Morbili. Anak yang terserang campak kelihatan sangat menderita, suhu badan panas, bercak bercak seluruh tubuh terkadang sampai borok bernanah. Biasanya penyakit ini timbul pada masa anak dan kemudian menyebabkan kekebalan seumur hidup. Bayi yang dilahirkan oleh ibu yang pernah menderita morbili akan mendapat kekebalan secara pasif (melalui plasenta) sampai umur 4-6 bulan dan setelah umur tersebut kekebalan akan mengurang sehingga si bayi dapat menderita morbili. Bila seseorang wanita menderita morbili ketika ia hamil 1 atau 2 bulan, maka 50% kemungkinan akan mengalami abortus, bila ia menderita morbili pada trimester I, II, atau III maka ia akan mungkin melahirkan seorang anak dengan kelainan bawaan atau seorang anak dengan BBLR, atau lahir mati atau anak yang kemudian meninggal sebelum usia 1 tahun.
Morbili / campak adalah penyakit akut yang disebabkan virus campak yang sangat menular pada umumnya menyerang anak-anak. Menurut kriteria diagnostiknya, ada 4 stadium campak meliputi stadium tunas, stadium prodormal / kataral, stadium erupsi, dan stadium konvalesensi. Gejala klinis morbili meliputi demam mencapai 400C, pilek, batuk, konjungtivitis, ruam erupsi makulopapular, dan  koplik’s spot (merupakan tanda pathognomonis penyakit campak, bentuk bintik tidak teratur dan kecil berwarna merah terang, pada pertengahan di dapat noda putih keabuan, mula-mula 2-6 bintik). Pada pasien ini masih di observasi febris hari ke-2 dengan suspek morbili. Untuk terapi medikamentosa diberikan infus KAEN 3A, antipiretik (parasetamol), ambroxol, vitamin A dan C. Sedangkan untuk Supportifnya, pasien diminta untuk istirahat, dan pasien dirawat di bangsal isolasi untuk mencegah penularan ke pasien lain.
B.     Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mampu menerapkan asuhan keperawatan anak dengan morbili
2.      Tujuan Khusus
a.    Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada anak dengan morbili.
b.    Dapat merumuskan masalah dan membuat diagnosa keperawatan pada anak dengan morbili.
c.    Dapat membuat perencanaan pada anak dengan morbili.
d.   Mampu melaksanakan tindakan keperawatan dan mampu mengevaluasi tindakan yang telah dilakukan pada anak dengan morbili.




















BAB II
PEMBAHASAN

A.      Konsep Dasar Penyakit
1.    Definisi
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi. Morbili ialah penyakit infeksi virus akut, sangat menular yang ditandai dengan 3 stadium, yaitu stadium inkubasi, stadium prodromal dan stadium erupsi. (Azis, 2006).

  1. Etiologi
Morbili virus dan famili paramyxoviridae yang merupakan virus single stranded RN. Didalam virus terdapat nukleokapsid yang bulat lonjong terdiri dari bagian protein yang mengelilingi asam nukleat (RNA) selubung luar merupakan suatu protein yang bersifat hemagglutunin.
Etiologi Morbili
 



  1. Patofisiologi
Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili, familiparamyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH asam, ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus campak ditularkan lewat droplet, menempel dan berkembang biak pada epitel nasofaring. Virus ini masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga kemungkinan melalui kelenjar air mata.
Dua sampai tiga hari setelah invasi, replikasi dan kolonisasi berlanjut pada kelenjar limfe regional dan terjadi viremia yang pertama. Virus menyebar pada semua sistem retikuloendotelial dan menyusul viremia kedua setelah 5-7 hari dari infeksi awal. Adanya giant cells dan proses peradangan merupakan dasar patologik ruam dan infiltrat peribronchial paru. Juga terdapat udema, bendungan dan perdarahan yang tersebar pada otak. Kolonisasi dan penyebaran pada epitel dan kulit menyebabkan batuk, pilek, mata merah (3 C : coryza, cough and conjuctivitis) dan demam yang makin lama makin tinggi. Gejala panas, batuk, pilek makin lama makin berat dan pada hari ke 10 sejak awal infeksi (pada hari penderita kontak dengan sumber infeksi) mulai timbul ruam makulopapuler warna kemerahan. Virus dapat berkembang biak juga pada susunan saraf pusat dan menimbulkan gejala klinik encefalitis. Setelah masa konvelesen pada turun dan hipervaskularisasi mereda dan menyebabkan ruam menjadi makin gelap, berubah menjadi desquamasi dan hiperpigmentasi. Proses ini disebabkan karena pada awalnya terdapat perdarahan perivaskuler dan infiltrasi limfosit.


  1. Gejala Klinis
Penyakit ini merupakan salah satu self limiting disease dengan ditandai oleh 3 stadium, yaitu:
a.    stadium inkubasi, 10-12 hari, tanda gejala.
b.    Stadium prodormal, dengan gejala – gejala panas sampai dengan, coryza,batuk,konjungtivitis,fotofobia, anoreksia, malaise, dan koplik spot pada mukosa bukalis.
c.    Stadium erupsi, dengan adanya rash makulopapulous pada seluruh tubuh dan panas tinggi.
Setelah masa inkubasi, mulai timbul gejala panas dan malaise. Dalam 24jam coryza , konjungtivitis dan batuk. Gejala-gejala ini bertambah hebat secara bertahap dan mencapai puncaknya saat timbul erupsi pada hari ke empat. Kira-kira sebelum timbulnya rash, terlihat koplik spot dimukosa bukalist pada sisi yang berlawanan dengan gigi molar. Panas dan koplik spot menghilang dalam 24 jam setelah timbul rash. Coryza dan konjungtivitis menghilang pada ke tiga rash lamanya eksantema menghilang jarang melebihi 5-6hari.
1)      Panas
Panas dapat meningkat pada hari ke-5/ke-6, yaitu pada saat timbulnya puncak timbulnya erupsi. Kadang- kadang temperatur dapat bisafik dengan peningkatan awal yang cepat dalam 24-48 jam pertama diikuti dengan periode normal selama 1 hari dan selanjutnya terjadi peningkatan yang cepat sampai 39-40,6 C saat erupsi rash mencapai puncaknya.
Pada morbili yang tidak mengalami komplikasi, temperatur turun secara lisis antara hari ke2 dan ke3, hingga timbulnya eksantema. Bila tidak disertai komplikasi, 2 hari setelah timbulnya rash panas biasanya turun bila panas menetap kemungkinan penderita mengalami komplikasi.
2)      Coryza
Batuk dan bersin diikuti dengan hidung tersumbat dan sekret yang mukopurulen dan menjadi profus pada saat erupsi mencapai puncaknya. Serta menghilang bersamaan dengan menghilangnya panas.
3)      Konjungtivitis
Pada periode awal stadium prodomal dapat ditemukan transverse marginal line injection pada palpebra inferior. Konjungtivitis akan berkurang setelah demam turun.
4)      Batuk
Batuk disebabkan oleh reaksi inflamasi mukosa saluran pernafasan. Intensitas batuk meningkat dan mencapai puncaknya pada saat erupsi. Namun, batuk bertahan lebih lama dan menghilang secara bertahap dalam waktu 5-10 hari.
5)      Koplik spot
Merupakan bercak-bercak kecil iregular sebesar ujung jarum atau pasir yang berwarna merah terang dan bagian tengahnya bewarna putih kelabu. Gambaran ini merupakan salah satu tanda patonomomik morbili. Koplik spot menghilang dalam 24 jam- hari kedua timbulnya rash.
          
6)      Rash
Timbul setelah 3-4 hari panas, rash mulai timbul dari belakang telinga dari batas rambut, kemudian penyebar didaerah pipi,leher seluruh wajah dan dada. Biasanya dalam 24 jam sudah menyebar sampai kelengan atas dan selanjutnya keseluruh tubuh mencapi kaki pada hari ke tiga pada saat rash sudah sampai kaki, rash yang timbul duluan berangsur-angsur menghilang.



          

  1. Penatalaksanaan
Terdapat indikasi pemberian obat sedatif, antipiretik untuk mengatasi demam tinggi. Istirahat ditempat tidur dan pemasukan cairan yang adekuat. Mungkin diperlukan humidikasi ruangan bagi penderita laringitis atau batuk mengganggu dan lebih baik mempertahanakan suhu ruangan yang hangat.
Penatalaksanaan Teraupetik :
a.         Pemberian vitamin A.
b.         Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik.
c.         Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi.
d.        Pemberian obat batuk dan sedativum

B.   Konsep Asuhan Keperawatan
1.             Pengkajian.
a.    Identitas diri
b.    Riwayat Imunisasi
c.    Kontak dengan orang yang terinfeksi
d.   Pemeriksaan Fisik :
1)      Mata : terdapat konjungtivitis, fotophobia
2)      Kepala : sakit kepala
3)      Hidung : Banyak terdapat secret, influenza, rhinitis/koriza, perdarahan hidung (pada stad eripsi ).
4)      Mulut & bibir : Mukosa bibir kering, stomatitis, batuk, mulut terasa pahit.
5)      Kulit : Permukaan kulit ( kering ), turgor kulit, rasa gatal, ruam makuler pada leher, muka, lengan dan kaki (pada stad. Konvalensi), evitema, panas (demam).
6)      Pernafasan : Pola nafas, RR, batuk, sesak nafas, wheezing, renchi, sputum.
7)      Tumbuh Kembang : BB, TB, BB Lahir, Tumbuh kembang R/ imunisasi.
8)      Pola Defekasi : BAK, BAB, Diare.
9)      Status Nutrisi : intake – output makanan, nafsu makanan
e.    Keadaan Umum : Kesadaran, TTV

2.             Diagnosa keperawatan
Diagnosa yang mungkin muncul pada pasien Morbili adalah
a.    Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan organisme virulen
b.    Ketidakefektifan bersihan jalan nafas : ketidakmampuan mengeluarkan  sekret berhubungan dengan penumpukan sekret pada nasofaring
c.    Peningkatan suhu tubuh Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi infeksi virus
d.   Perubahan  nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
e.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, diare, muntah
f.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan infeksi virus morbili
g.    Gangguan pola bermain berhubungan dengan dampak hospitalisasi
3.             Rencana keperawatan
a.    Resiko penyebaran infeksi berhubungan dengan organisme virulen
a)    Tujuan : penyebaran infeksi tidak terjadi setelah dilakukan tindakan keperawatan
b)   Kriteria Hasil : tidak ada tanda-tanda infeksi (merah, panas, bengkak, kehilangan fungsi), suhu tubuh dalam batas normal (36,5ºC-37,5ºC),
c)    Intervensi :
Kaji keadaan umum klien, ukur suhu tubuh klien, kaji adanya tanda-tanda infeksi, gunakan prosedur perlindungan infeksi jika melakukan kontak dengan anak, pertahankan istirahat selama periode prodromal (kataral), berikan antivirus sesuai program.

b.   Ketidakefektifan bersihan jalan nafas: ketidakmampuan mengeluarkan berhubungan dengan penumpukan sekret pada nasofaring
a)    Tujuan : jalan nafas efektif setelah dilakukan tindakan keperawatan
b)   Kriteria Hasil : Bunyi nafas normal : vesikuler, frekuensi nafas dalam batas normal ( 24-26x/ menit)
c)    Intervensi :
     Kaji bunyi nafas, frekuensi nafas, kedalaman nafas, kaji adanya batuk dan karakteristik sputum, anjurkan anak untuk banyak minum, berikan terapi obat yang dapat meningkatkan efektifnya jalan nafas (Bronkodilator, antikolienergik, antiperadangan), lakukan fisioterapi dada

c.    Peningkatan suhu tubuh : Hipertermi berhubungan dengan proses inflamasi/ infeksi virus
a)    Tujuan : hipertermi teratasi setelah dilakukan tindakan keperawatan
b)   Kriteria Hasil : Suhu tubuh dalam batas normal (36,5ºC-37,5ºC),
c)    Intervensi :
     Kaji suhu tubuh klien tiap 2 jam, beri kompres dengan air biasa pada daerah aksila, lipatan paha, temporal bila terjadi panas, anjurkan klien untuk banyak minum, libatkan keluarga dalam perawatan serta ajari cara menurunkan suhu tubuh, anjurkan orang tua untuk memberikan baju tipis yang menyerap keringat, pantau suhu lingkungan, batasi/tambahkan linen tempat tidur sesuai indikasi, kolaborasi pemberian terapi antipiretik.
                                      
d.   Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake yang tidak adekuat
a)    Tujuan : Perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh tidak terjadi setelah diberikan tindakan keperawatan
b)   Kriteria Hasil : konjungtiva merah muda, BB dalam batas normal ( 20 kg), makanan habis dalam 1 porsi
c)    Intervensi :
     Kaji pola nutrisi klien, kaji makanan yang tidak disukai dan disukai klien, kaji adanya mual dan muntah, timbang berat badan setiap hari, berikan susu porsi sedikit tetapi sering dan berikan dalam porsi hangat, berikan makanan lunak, misalnya bubur yang memakai kuah, anjurkan orang tua untuk memberikan makanan dengan porsi kecil tetapi sering, pertahankan kebersihan mulut anak.
e.    Kekurangan volume cairan berhubungan dengan demam, diare, muntah
a)    Tujuan : Volume cairan terpenuhi setelah dilakukan tindakan keperawatan
b)   Kriteria Hasil : turgor kulit elastis, membran mukosa lembab, produksi urin dalam batas normal (1cc/kg BB/ jam)
c)    Intervensi :
     Kaji turgor kulit, membran mukosa klien, kaji berat badan klien, kaji intake dan output/ 24 jam, anjurkan klien untuk banyak minum, observasi hasil pemeriksaan laboratorium ( Ht, K, Na, Cl), kolaborasi pemberian cairan infus.

f.     Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan infeksi virus morbili
a)    Tujuan : integritas kulit mengalami perbaikan setelah dilakukan tindakan keperawatan.
b)   Kriteria Hasil :  tidak ada ruam/kemerahan,
c)    Intervensi :
     Pantau kulit terhadap adanya ruam, area kemerahan, dorong klien untuk menghindari menggaruk kulit, pertahankan kuku anak tetap pendek, cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan klien dan lingkungan, ajarkan anggota keluarga tentang tanda kerusakan kulit, mandikan klien dengan menggunakan sabun yang lembut dan air hangat.

g.    Gangguan pola bermain berhubungan dengan dampak hospitalisasi
a)    Tujuan : gangguan bermain dapat teratasi setelah diberikan tindakan keperawatan.
b)   Kriteria Hasil : anak tidak menangis bila didekati perawat, anak tidak menangis bila akan dilakukan tindakan keperawatan.
c)    Intervensi :
     Bina hubungan saling percaya, lakukan kontak sesering mungkin dengan klien, ciptakan lingkungan yang membuat nyaman, anjurkan orang tua untuk membawakan mainan kesukaan anaknya, lakukan tindakan kenyamanan : menyentuh,membelai, menggendong, dan ajak bicara sesering mungkin, libatkan keluarga dalam melaksanakan tindakan keperawatan, lakukan tindakan bermain bersama klien
4.             Implementasi
Implementasi keperawatan merupakan kegiatan yang dilakukan sesuai dengan rencana yang telah ditetapkan. Selama pelaksanaan kegiatan dapat bersifat mandiri dan kolaboratif. Selama melaksanakan kegiatan perlu diawasi dan dimonitor kemajuan kesehatan klien.

5. Evaluasi
a.    Perluasan infeksi tidak terjadi.
b.    Anak menunjukkan pola nafas efektif.
c.    Anak dapat mempertahankan integrasi kulit.
d.   Anak menunjukan terpenuhi tanda tanda kebutuhan nutrisi.
e.    Anak dapat melakukan aktifitas sesuai dengan usia

6. Penkes
a.    Imunisasi aktif
Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan vaksin campak hidup yang telah dilemahkan. Vaksin hidup yang pertama kali digunakan adalah Strain Edmonston B. Pelemahan berikutnya dari Strain Edmonston B. Tersebut membawa perkembangan dan pemakaian Strain Schwartz dan Moraten secara luas. Vaksin tersebut diberikan secara subkutan dan menyebabkan imunitas yang berlangsung lama. Pada penyelidikan serulogis ternyata bahwa imunitas tersebut mulai mengurang 8-10 tahun setelah vaksinasi. Dianjurkan agar vaksinasi campak rutin tidak dapat dilakukan sebelum bayi berusia 15 bulan karena sebelum umur 15 bulan diperkirakan anak tidak dapat membentuk antibodi secara baik karena masih ada antibodi dari ibu.Pada suatu komunitas dimana campak terdapat secara endemis, imunisasi dapat diberikan ketika bayi berusia 12 bulan.

b.    Imunisasi pasif (immunoglobulin)
Imunisasi pasif dengan serum orang dewasa yang dikumpulkan, serum stadium penyembuhan yang dikumpulkan, globulin placenta (gama globulin plasma) yang dikumpulkan dapat memberikan hasil yang efektif untuk pencegahan atau melemahkan campak. Campak dapat dicegah dengan serum imunoglobulin dengan dosis 0,25 ml/kg BB secara IM dan diberikan selama 5 hari setelah pemaparan atau sesegera mungkin.
Indikasi :
1)   Anak usia > 12 bulan dengan immunocompromised belum mendapat imunisasi, kontak dengan pasien campak, dan vaksin MMR merupakan kontraindikasi.
2)   Bayi berusia < 12 bulan yang terpapar langsung dengan pasien campak mempunyai resiko yang tinggi untuk berkembangnya komplikasi penyakit ini, maka harus diberikan imunoglobulin sesegera mungkin dalam waktu 7 hari paparan. Setelah itu vaksin MMR diberikan sesegera mungkin sampai usia 12 bulan, dengan interval 3 bulan setelah pemberian imunoglobulin.

BAB III
PENUTUP

A.    KESIMPULAN
Morbili adalah penyakit anak menular yang lazim biasanya ditandai dengan gejala-gejala utama ringan, ruam serupa dengan campak ringan atau demam, scarlet, pembesaran serta nyeri limpa nadi.
Penyebab campak adalah measles virus (MV), genus virus morbili, famili paramyxoviridae. Virus ini menjadi tidak aktif bila terkena panas, sinar, pH asam, ether, dan trypsin dan hanya bertahan kurang dari 2 jam di udara terbuka. Virus campak ditularkan lewat droplet, menempel dan berkembang biak pada epitel nasofaring. Virus ini masuk melalui saluran pernafasan terutama bagian atas, juga kemungkinan melalui kelenjar air mata.
Penatalaksanaan pada morbili meliputi Pemberian vitamin A,Istirahat baring selama suhu meningkat, pemberian antipiretik,Pemberian antibiotik pada anak-anak yang beresiko tinggi,Pemberian obat batuk dan sedativum.
Komplikasi morbili meliputi otitis media akut, Pneumonia / bronkopneumoni, Encefalitis, Bronkiolitis, Laringitis obstruksi dan laringotrakkhetis

B.     SARAN
Adapun saran yang dapat penulis berikan adalah selalu menjaga kebersihan diri dan lingkungan sekitar kita, jika diri kita dan lingkungan kita bersih maka secara otomatis mikroorganisme penyebab penyakit akan sukar menyerang. Terlebih sebagai seorang perawat, harus mengetahui dengan baik perawatan diri ( personal hygiene ) dan lingkungan, harus mengetahui dengan jelas seperti apakah penyakit morbili tersebut dan bagaimana penanganannya dalam dunia keperawatan serta pencegahannya.


DAFTAR PUSTAKA

Hasan, R. (1998). Ilmu Kesehatan Anak 1. Jakarta : Percetakan Informedika.
Hasan, R. (1997). Ilmu Kesehatan Anak 2. Jakarta : Percetakan Informedika.
Hidayat, alimul azis. (2006). Pengantar ilmu keperawatan anak. Jakarta: Salemba
   Medika
Ngastiyah. (2005). Perawatan anak sakit. (ed 2). Jakarta : EGC.
Saripudin. Yuliani, R. (2010). Asuhan keperawatan pada anak (Ed. 2nd). Jakarta :
   CV. Sagung Seto.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar